Assalamu'alaikum,,, Salam Hormat

Terima kasih atas kunjungan anda ke blog saya. Semoga bermanfaat. Semua tulisan ini hasil saya pribadi, atau diambil dari tulisan lain yang tercantum pada rujukannya. Bila mengutip baik secara langsung maupun tidak, sebagian atau keseluruhan, diharapkan Mencantumkan sumber tulisan dan penulisnya pada daftar pustaka/catatan kaki sebagai bahan rujukannya.
atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih

Rabu, 23 Maret 2011

Resensi: Menjinakkan Metakuasa Global


Title : Menjinakkan Metakuasa Global
Type : Book
Author(s): Imam Cahyono, Editor
Publisher : LP3ES, Desember 2008
Pages : 328
Language: Indonesia

Globalisasi adalah sebuah kekuatan yang buta. Ia harus dipandu. Jika tidak, kita akan terseret dan tersesat oleh dayanya. Ia perlu dituntun oleh aturan main pada tingkat global yang adil agar tidak menimbulkan kerugian dan malapetaka bagi yang belum biasa atau belum siap memanfaatkannya. Tidak dapat disangkal, sebagian besar negara berkembang dan miskin justru kian terpuruk dan terpinggirkan olehnya. Gagasan mereformasi tata kelola globalisasi sangatlah ambisius, tapi sungguh naif jika tidak dikerjakan.

Indonesia yang berada di dalam arus globalisasi harus memperkuat diplomasi ekonominya agar tetap eksis. Peran diplomasi Indonesia harus diperluas dengan menggunakan politik luar negeri sebagai instrumen untuk mencapai pembangunan ekonomi. Untuk itu, dibutuhkan dukungan institusi yang memadai serta pola koordinasi yang efektif. Penguatan kelembagaan perlu didukung dengan penguatan kapasitas negosiator seiring dengan kompleksitas dan dinamika globalisasi. Buku ini membahas hal tersebut dengan sangat menarik.

Diskusi Internal "Kebangkitan Demokrasi dan Masa Depan Timur Tengah" *

Ditulis oleh Lidya Christin Sinaga


Aksi-aksi demonstrasi terhadap pemerintah status quo yang dianggap otoriter akhir-akhir ini sedang marak terjadi di kawasan Timur Tengah. Sebut saja di Tunisia, Mesir, Aljazair, dan Yordania. Pergolakan politik tersebut tidak hanya menandai perubahan konstelasi politik di Timur Tengah, namun juga menandai bangkitnya demokrasi di kawasan itu. Hal inilah yang diangkat Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI dalam diskusi internal bertajuk ”Kebangkitan Demokrasi dan Masa Depan Timur Tengah” yang diselenggarakan pada 11 Februari 2011. Diskusi ini menghadirkan dua orang pembicara, yaitu Ahmad Faris, Lc, MSi, kandidat Ph.D Bidang Politik dari Ankara University-Turki, dan Drs. Moh. Hamdan Basyar, MSi, pemerhati Timur Tengah yang juga peneliti senior P2P-LIPI.

Ahmad Faris dalam paparannya mengungkapkan bahwa kejadian di Tunisia dan Mesir bukan dipicu oleh satu kasus baru, tapi merupakan bayaran atas keterlambatan pemerintah negara-negara kawasan dalam merespon gejala-gejala perubahan sosial yang terjadi pada dua dasawarsa terakhir. Tuntutan utama rakyat adalah perubahan politik dan kebijakan ekonomi. Menurutnya, ada empat faktor yang dapat dilihat dalam membaca perubahan politik di Timur Tengah, yaitu faktor ekonomi, politik, sosial, dan psikologis. Secara ekonomi, negara di Timur Tengah terdiri dari negara kaya dengan pemerintahan yang otoriter, negara miskin dengan pemerintahan yang otoriter, negara mapan dan demokratis, dan negara kaya namun pemerintah belum kokoh. Dari sisi politik, di negara-negara Timur Tengah tidak ada lembaga yang menampung aspirasi rakyat dan hilangnya hak menyatakan pendapat. Sementara dari faktor sosial kita lihat wawasan rakyat yang sudah sangat terbuka seiring era informasi global seperti internet dan televisi kabel (contoh Stasiun al-Jazirah, CNN, dan sebagainya). Masyarakat saat ini tidak hanya menyerap informasi melalui televisi dan surat kabar milik pemerintah. Berita yang mereka dapatkan secara bebas itu akhirnya memunculkan kesadaran akan hak-hak mereka yang selama ini terabaikan. Untuk kasus Mesir, misalnya, Revolusi Melati di Tunisia telah mengilhami hal penting dan membuka cakrawala baru bahwa ternyata penguasa tidak sekuat yang dibayangkan mereka selama ini. Rakyat Mesir hanya melihat betapa mudahnya menggulingkan pemerintah yang telah berkuasa puluhan tahun. Mereka mengabaikan beberapa perbedaan realitas politik Tunisia dengan Mesir. Terakhir, secara psikologis, pada dasarnya rakyat bosan dengan status quo para pemimpin di Timur Tengah, di samping tidak ada celah bagi dialog, apatis terhadap perubahan, harapan telah tertutup, dan melihat jalan satu-satunya adalah kekerasan.

Hamdan Basyar menambahkan bahwa partai Hosni Mubarak, yaitu Partai Demokratik Nasional (NDP), adalah partai pemerintah yang pada pemilihan umum (pemilu) legislatif tahun 2005 sempat mengalami penurunan perolehan suara dibandingkan pemilu tahun 2000. Sementara, Ikhwanul Muslimin (IM), kelompok oposisi terbesar di Mesir, justru mengalami peningkatan perolehan suara pada pemilu 2005 tersebut, dari 17 suara pada pemilu sebelumnya menjadi 88 suara dari 420 total kursi parlemen Mesir atau sekitar 21 %. Namun, pada pemilu tahun 2010 yang merupakan pemilu legislatif ke-7 sejak Mubarak berkuasa, Ikhwanul Muslimin justru tidak memperoleh satu suara pun. Pemilu tersebut ditengarai mengandung banyak kecurangan. Tak pelak, IM kemudian memboikot pemilu putaran kedua yang diadakan Desember 2010. Demontrasi yang terjadi di Mesir merupakan demonstrasi yang tergalang dari jaringan internet. Menjawab tuntutan demonstrasi rakyat, Mubarak melakukan perubahan dalam sistem pemerintahan Mesir, yaitu dengan mengangkat Omar Soleiman, kepala Badan Intelijen Negara, sebagai wakil presiden untuk pertama kalinya selama 30 tahun Mubarak memerintah dan Ahmad Shafiq, mantan kepala staf udara, sebagai perdana menteri.

Menurut Faris, ada empat skenario politik yang mungkin terjadi di Mesir tahun 2011 ini. Pertama, berjalan normal dan pemilu dilaksanakan sebagai rutinitas di mana Mubarak kembali mencalonkan diri dan menang. Kedua, pemilu berlangsung di mana Mubarak tidak mencalonkan diri, tetapi mengusung anaknya, Gamal, sebagai pengganti dan menang. Ketiga, militer mengambil alih kekuasaan dengan alasan korupsi yang merajalela dan kemiskinan yang parah. Keempat, revolusi rakyat yang menolak rezim lama, menolak militer, dan menolak parlemen lama.

Lebih jauh Ahmad Faris melihat ada persamaan dan perbedaan antara kasus di Tunisia dan Mesir. Persamaan terletak pada faktor ekonomi, politik, dan budaya. Namun keduanya berbeda, terutama karena budaya militer di Tunisia yang tidak terlibat dengan politik praktis, kenyataan bahwa oposisi di Tunisia masih memiliki tokoh-tokoh berpengaruh yang terpelihara sejak awal kekuasaan Ben Ali, dan adanya kepentingan Barat. Sementara terkait potensi konflik di Sudan, menurut Faris, bisa terjadi karena beberapa hal. Pertama, kelompok yang dirugikan oleh referendum akan terus mempertanyakan keabsahan referendum dan menyebabkan konflik antara kelompok separatis dan pendukung persatuan. Kedua, populasi penduduk Sudan Selatan cukup besar, yaitu 8,25 juta jiwa di mana 24%-nya adalah muslim. Sementara di Sudan Utara, masih banyak hidup penduduk Sudan Selatan. Realita ini tentu akan menjadi gesekan yang signifikan. Ketiga, sengketa perbatasan, baik di daerah Abyei atau daerah-daerah potensial lain. Kasusnya mirip pasca disintegrasi Uni Soviet. Apalagi, pemerintah pusat harus kehilangan 30% sumber minyak. Keempat, keberhasilan Sudan Selatan melepaskan diri kemungkinan akan menyebabkan potensi disintegrasi daerah lain, terutama Darfur. Kelima, pasca merdeka, kemungkinan Sudan Selatan akan segera membuka hubungan diplomatik dengan Israel secepat mungkin. (Lidya Christin Sinaga)

* tulisan ini diambil dari http://www.politik.lipi.go.id/index.php/in/kegiatan/409-diskusi-internal-kebangkitan-demokrasi-dan-masa-depan-timur-tengah


Selasa, 22 Februari 2011

TUGAS-TUGAS KOMISI DPRD KAB. CIREBON



KOMISI DPRD KABUPATEN CIREBON

Komisi I Bidang Pemerintahan, meliputi :

1. Pemerintahan.

2. Keamanan, ketertiban dan ketentraman, hukum dan perundang-undangan.

3. Pemberdayaan masyarakat, keputusan, kearsipan dan dokumentasi.

4. Kepegawaian (aparatur pemerintah) dan diklat.

5. Sosial politik dan organisasi kemasyarakatan.

6. Pertanahan.

7. Kependudukan dan capil.

8. Pengawasan (inspektokrat)

9. Komunikasi dan informasi

10. Pembangunan sarana dan prasarana pemerintahan desa/kelurahan

Susunan anggota komisi I

No

Nama Anggota

Fraksi

Jabatan

1.

Drs. Sutadi, M.MPd

F.PKB

Ketua

2.

Nina Kerisnawati

F. PDIP

Wakil Ketua

3.

Effendi Darmadji

F. P. Golkar

Sekretaris

4.

H. Tarmadi

F. PDIP

Anggota

5.

Hj. Amenah, SE

F. PDIP

Anggota

6.

Iroh Rohayati

F. PD

Anggota

7.

M.Naufal

F. PKB

Anggota

8.

H. Satori

F. PKS

Anggota

9.

Doddy Tedjakusuma Basuni, SH

F. P. Golkar

Anggota

10.

Moch. Insyaf Supriyadi, SH

F. P. Hanura

Anggota

11.

Ibnu Hamdun, S.Ag

F. GBR

Anggota

Komisi II Bidang Perekonomian dan Keuangan, meliputi:

1. Perindustrian.

2. Kelautan dan perikanan.

3. Pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan dan ketahanan pangan.

4. Koperasi, UKM, penanaman modal dan perizinan.

5. Keuangan perpajakan

6. Perpajakan dan retribusi

7. Badan usaha milik daerah, dunia usaha dan perbankan

Susunan Anggota Komisi II

No

Nama Anggota

Fraksi

Jabatan

1.

Aan Setyawan, S.Si

F. PDIP

Ketua

2.

Drs. H. Jaya Taram. SH

F. GBR

Wakil Ketua

3.

H. Rakhmat

P. Hanura

Sekretaris

4.

Suhendi Azhari, SH

F. PDIP

Anggota

5.

Bejo Kasiyono

F. PDIP

Anggota

6.

H. Abdus Shomad

F. PD

Anggota

7.

Dodo Widodo

F. PD

Anggota

8.

Hj. Yuningsih, S.Ag

F. PKB

Anggota

9.

Ahmad Fawaz, S.TP

F. PKS

Anggota

10.

Edi Mulyadi

F. Golkar

Anggota

11.

Supirman, SH

F. P. Hanura

Anggota

12.

Hermanto, SH

F. GBR

Anggota

Komisi III Bidang pembangunan, meliputi:

1. Pekerjaan umum.

2. Perubahan.

3. Sumber daya air.

4. Tata ruang.

5. Perhubungan.

6. Lingkungan hidup, pertambangan dan energi.

7. Pertamanan, kebersihan dan pemadam kebakaran

Susunan anggota komisi III, meliputi:

No

Nama Anggota

Fraksi

Jabatan

1.

Drs. Achmad Darsono

F. PD

Ketua

2.

H. Yoyo Siswoyo

F. PDIP

Wakil Ketua

3.

M. Arif Rahman, ST

F. PKS

Sekretaris

4.

Suherman

F. PDIP

Anggota

5.

H. Agus Kurniawan

F. PDIP

Anggota

6.

Sawita

F. PDIP

Anggota

7.

Iin Solikin

F. PD

Anggota

8.

H. Abdullah Masrur

F. PKB

Anggota

9.

Hj. Lilik Nihayah Fuady, S.Pd.I

F. PKB

Anggota

10.

Sunandar Priyo Wudarmo, A.Md

F. P. Golkar

Anggota

11.

Wartipan Suwanda, SH

F. P Hanura

Anggota

12.

R. Endi Adhibrata

F. GBR

Anggota

Komisi IV Bidang Kesejahteraan Rakyat, meliputi:

1. Pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi.

2. Kesehatan.

3. Ketenagakerjaan dan transmigrasi.

4. Sosial dan keagamaan.

5. Pemberdayaan perempuan, peranan wanita dan KB.

6. Kebudayaan, pariwisata, pemuda dan olah raga.

7. Pengadaan pangan, logistik dan kesejahteraan.

Susunan anggota komisi IV, meliputi:

No

Nama Anggota

Fraksi

Jabatan

1.

H. Mustofa, SH

F. PDIP

Ketua

2.

H. Tatang Rustana

F.P. Golkar

Wakil Ketua

3.

Ahmad Aidin Tamim, S.Pd.I

F. PKS

Sekretaris

4.

Raden Bana, SmhK

F. PDIP

Anggota

5.

Rudiana, SE

F. PDIP

Anggota

6.

Hj. Rita Muliana

F. PD

Anggota

7.

KH. Muhaimin As'ad

F. PKB

Anggota

8.

Toif, S.Pd

F. PKS

Anggota

9.

H. Darpan

F. P. Golkar

Anggota

10.

Dewi Fatmawati

F. P. Hanura

Anggota

11.

Drs. H. Subhan

F. GBR

Anggota